Mencuci Lumpur Cermin Diri

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum wbt, Salam Ramadhon, Salam Lailatul Qadr,

Mencuci lumpur bukanlah sesuatu yang mudah seperti jangkaan oleh segelintir masyarakat. Hakikatnya ia jauh lebih sukar, ditambah pula dengan salutan lumpur yang telah lama menutupi kilauan-kilauan cermin.

Jika dulu, amanahnya adalah untuk menjaga dan menyinarkan lagi kilauan cermin-cermin yang sudah cukupnya bersinar. Justeru, ketika itu tugasnya tetap sukar namun, alhamdulillah ia mudah diatur. Tambahan pula, cermin-cermin itu cukup berkualiti. Sekali lagi, alhamdulillah ia berjaya diuruskan.

“Mengarungi samudera kehidupan, kita ibarat para pengembara, hidup ini adalah perjuangan, tiada masa tuk berpangku tangan”

Kini, amanahnya adalah untuk mencuci, membersihkan malah mengembalikan roh kilauan cermin yang kian ditelan zaman akibat lumpur kental yang menutupi. Lumpur-lumpur yang tidak pernah jemu menumpang populariti, mengaut untung sebuah cermin yang suatu ketika dahulu ia sangat terkenal dengan jasa kepada Tuannya.

“Setiap titis peluh dan darah, tak akan sirna ditelan masa, segores luka di jalan Allah, akan menjadi saksi pengorbanan”

Alhamdulillah, Tuannya masih sayang akan ia. Lalu, harapanya adalah untuk menemui seorang pencuci yang telah mencermin diri sendiri dahulu. Jika jasad pencuci ini sendiri penuh bersalut lumpur, bagaimana pula dia mampu membersihkan cermin. Hatta, boleh jadi, cermin itu akan kian pudar menunggu saat terakhirnya. Maka, benarlah kata bijaksana, andai mahu dunia berubah, diri sendiri perlu berubah terlebih dahulu-cerminan diri sendiri!

“Allahu ghaayatunaa, Ar-Rasuulu qudwatunaa, Al-Qur’aanu dusturunaa, Al-Jihadu sabiiluna, Al-Mautu fii sabilillah Asma amaanina”

Justeru, sejarah telah menjadi saksi saat 12 ramadhon bermulanya sebuah perjuangan yang cukup getir. Adakah ia cukup kuat menongkah arus menguasai kejayaan atau duduk kaku, terdiam menyesali kegagalan. Akhirnya, masa akan menjadi penonton yang sangat setia kerana hakikat kehidupan adalah tetap sebuah perjuangan.

“Allah adalah tujuan kami, Rasullah adalah teladan kami, Al-Quran adalah pedoman hidup kami, Jihad adalah jalan juang kami, mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi

Maka berusaha ia, berdoa ia, bertawakal ia pada Penciptanya.

12 Ramadhon 1434 H, Taiping.

Image

Advertisements
This entry was posted in politics and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s